Kemulian Perempuan dan Islam

Dalam buku “Buya Hamka Berbicara Tentang Perempuan”

Perempuan adalah yang pertama kali ditemui manusia dan kita pun hidup di dalamnya. Sebagian berpikir hanya itulah fungsi hadirnya seorang perempuan. Namun sebagian lainnya tidak sependapat dengan hal tersebut. Dan dalam ketidak sepandapat pun ada variasi persepsi. Kita akan menyimak bagaimana persepsi yang dibangunoleh seorang ulama mashsyur di nusantara ini yang hingga kini pendapatnya pun masih dipakai oleh pelajar di negeri tetangga. Beliau adalah Buya HAMKA. Pandangan beliau tentang perempuan ini dibukukan yang pada mulanya adalah tulisan-tulisannya dalam majalah “Panji Masyarakat” pada tahuan 1990-an dimana saat itu juga lagi banyak diperbincangkan UU Perkawinan. Penerbit pertama buku ini adalah Pustaka Panji Emas pada tahun 1996 yang tujuan penerbitan buku ini adalah menjelaskan kemuliaan perempuan dalam Islam dan membantah pendapat pengusung RUU perkawinan yang baru. Melanjutkan misi tersebut dalam konteks kekinian dalam bentuk perang pemikiran maupun tindakan yang berkedok sosial Geman Insani menerbitkan buku ini kembali.

Buya Hamka melakukan studi komparatif terhadap tafsir Qur’an Surat An Nisaa’ ayat 1 dari hadits Mauquf shahabi dari Ibnu Abbas dengan tafsir lainnya. Ibnu Abbas berpendapat bahwa Hawa tercipta dari tulang rusuk Adam. Sedangkan dalam tafsir lainnya, yang tidak disebutkan referensi yang dipakai, menyebutkan bahwa makna dari “diri yang satu” adalah “manusia”. Dengan kata lain, baik laki-laki maupun perempuan hakikat jenisnya tetap sama yaitu manusia. Buya Hamka lebih lanjut menyatakan bahwa dalam Q.S. An Nisaa’ ayat 1 ini ada dua hal yang harus menjadi perhatian utama yakni yang pertama, Allah sebagai Maha Pencipta alam dan manusia; yang kedua yaitu kasih sayang dan hungan satu dengan yang lainnya. Dengan bahasa sederhana namun mengena Buya Hamka menjelaskan tentang kasih sayang dan hubungan tersebut dengan mengatakan bahwa manusia hadir ke dunia dipimpin oleh kasih ibu dan rasa sayang bapak sehingga lembaga untuk menumbuhkannya dalam diri ibu disebut rahim. Pertemuan antara laki-laki dan perempuan tersebut meyakinkan kita bahwa adanya perbedaan yang membuat mereka berbeda namun dapat menyatu kembali karena hakikat mereka sama, manusia.

Buya Hamka memaparkan betapa Islam memuliakan perempuan dengan memberikan pengetahuan bahwa dalam Al Qur’an nama perempuan banyak disebut bahkan dijadikan teladan. Teladan yang disebutkan Buya Hamka adalah Maryam ibunda Nabi Isa yang menjadi nama surat, ibunda Nabi Musa, kakak Nabi Musa, putri Nabi Syuaib yang salah satunya menjadi istri Nabi Musa, istri Fir’aun, ratu Balqis, kehidupan perempuan-perempuan dalam kisah Nabi Yusuf, perempuan yang datang dan mengajukan gugatan kepada Rasulullah terkait perlakuan aniaya suaminya, keteguhan iman perempuan-perempuan yang hijrah dan datang kepada Rasulullah, perempuan dalam rumah tangga, perempuan dalam bersikap dan bertindak. Simpulannya Buya Hamka menjelaskan bahwa perempuan harus memiliki harga diri yang tinggi karena mereka sama pentingnya dengan laki-laki dalam hal memikul tanggung jawab beragama, mengokohkan aqidah dan ibadah sehingga timbul ilham perjuangan menegakka izzul Islam wal muslimin.

Post Author: admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *