Belajarlah dari Imran dan Hannah ketika Belum diberi Keturunan

“Sesungguhnya Allah telah memilih Adam, Nuh, Keluarga Ibrahim, dan Keluarga Imran melebihi segala umat (di masa mereka masing-masing), (yaitu) satu keturunan yang sebagaiannya (turunan) dari yang lain. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”  Q.S. Ali Imran: 33-34

Imran dan Hannah tinggal di dekat Baitul Maqdis, Palestina. Mereka hidup pada masa Nabi Zakaria, dimana Hannah adalah saudara ipar Nabi Zakaria a.s. Ummat Nabi Zakaria saat itu hidup dari hasil bercocok tanam dan kerajinan kayu. Sebagai ummat Nabi Zakaria, Imran termasuk yang sholih dengan mengamalkan ajaran-ajaran Nabi Zakaria. Bahkan beberapa pendapat menyebutkan bahwa Imran adalah orang yang disegani atau sebagai ulama.

Imran dan Hannah kala itu hidup sangat sederhana dan harmonis. Rumah tangga mereka dipayungi keharmonisan hingga lanjut usia meskipun mereka belum dikaruniai keturunan. Keturunan merupakan salah satu hal yang banyak didambakan bagi setiap insan yang mengarungi bahtera rumah tangga. Hadirnya anak-anak akan membuat rasa letih seharian beraktivitas sirna ketika melihat senyuman mereka. Mereka adalah perhiasan dunia yang paling indah.

Sebagian keluarga diberi kemudahan oleh Allah untuk memperoleh keturunan. Sebagian yang lain harus berjuang sekuat hati, pikiran, tenaga dan materi untuk mendapatkan keturunan. Rasa cemas dan waswas semakin meningkat sejalan dengan usia pernikahan tahun demi tahunnya. Tak jarang rasa cemas yang selalu menghampiri dalam diri ditambah dengan bisik-bisik tetangga berpengaruh pada mental pasangan dan pikiran-pikiran irasional. Kondisi tersebut tidak jarang mengakibatkan berkurangnya keharmonisan rumah tangga bahkan berujung pada perceraian. Agar hal-hal yang tidak diinginkan demikian tidak terjadi mari belajar kepada keluarga Imran dan Hannah.

Sebagai manusia dan seorang wanita, Hannah juga merasa cemas karena suatu rumusan umum bahwa masa subur perempuan lebih pendek daripada laki-laki. Ketika bisik-bisik kekhawatiran dan kecemasan datang menghampiri, ia hempaskan jauh-jauh. Suatu hari, Hannah duduk di pohon al-Mawalih dan melihat seekor burung yang memberi makan anak-anaknya dan ia pun berdoa kembali. Hannah akan memanfaatkan setiap kesempatan untuk memanjatkan doa dan harapannya. Hannah kembali berdoa dan tak henti-hentinya mendekatkan diri kepada Allah. Hannah dan Imran juga terus berikhtiar yang kemudian doanya terkabul.  Dan Allah pun mengabulkan doa-doa dan ikhtiar mereka dengan lahirnya Maryam.

Imran dan Hannah mengajarkan kepada kita bahwa kuatnya ikatan suami istri dalam mengahadapi ujian dan cobaan berumah tangga bergantung pada kapasitas kesholihan masing-masing. Kapasitas kesholihan (agama) adalah pertimbangan yang utama dan pertama dalam memilih pasangan baru kemudian paras, harta dan keturunannya. inilah yang disebut dengan pendidikan prakonsepsi dimana kita harus belajar meningkatkan kapasitas kesholihan untuk memantaskan diri. Pendidikan prakonsepsi ini menuntun kita menemukan pasangan yang sevisi dalam mendialogkan cita-cita dan ideologi yang dibangun dalam berkeluarga. Lebih lanjut, pendidikan prakonsepsi juga memudahkan kita menemukan pasangan yang kooperatif dan dapat saling tolong menolong dalam segala kondisi.

content writer: Dewi Susylowati

Post Author: admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *